Rindu di balik senja
Rindu di Balik Senja Di ujung hari yang hampir pudar, aku duduk diam di tepi senja, menyaksikan langit yang perlahan beranjak gelap. Cahaya jingga merayap, seolah melukiskan rindu yang tak pernah selesai kutuliskan. Di balik warna lembut itu, ada kenangan tentangmu, hadir dalam ingatan yang selalu kembali, meski jarak memisahkan kita.
Senja adalah waktu di mana rinduku menemukan caranya sendiri untuk berbicara. Ia tak butuh kata-kata, hanya hadir dalam keheningan, dalam tiap semburat merah yang perlahan tenggelam di cakrawala. Rindu ini seperti ombak yang berulang, kembali meski selalu dihempaskan. Entah kapan ia akan reda, atau mungkin tak pernah.
Aku selalu berharap senja ini bisa menyampaikan pesanku padamu, bahwa di sini ada seseorang yang diam-diam menunggumu, tanpa henti. Senja tahu, bahwa tiap kali ia hadir, rinduku padamu semakin dalam, semakin nyata, mengakar di hati yang tak pernah lelah merindukan kehadiranmu.
Di bawah langit yang perlahan meredup, aku berjanji pada senja: bahwa aku akan menunggumu, dalam tiap pertemuan langit dan bumi, hingga rindu ini tak lagi hanya sekadar kenangan yang menggantung di cakrawala.
Comments
Post a Comment